Sekitar 20 tahun lalu, Robert Lucas memberi Marshall Lecture di Cambridge. Pemenang Nobel Ekonomi itu bertanya, ”Tindakan apa yang perlu diambil Pemerintah India agar ekonominya tumbuh secepat Indonesia?”
Kini, keadaan terbalik. Kita perlu meniru India? 20 tahun berlalu, Ha-Joon Chang, pemikir Korea yang mengajar di Cambridge, menggugat arus neoliberalisme yang kini seolah menjadi satu-satunya resep pembangunan ekonomi. Ia mempertanyakan kebijakan the unholy trinity: IMF, World Bank, dan WTO, yang diotaki negara-negara maju, dalam menerapkan syarat ketat bagi negara berkembang saat krisis melanda dan memaksa membuka pasar bagi perdagangan dunia.
Jalan alternatif?
Padahal, sejarah menunjukkan, negara-negara maju saat membangun menerapkan berbagai kebijakan untuk memproteksi tumbuhnya industri dalam negeri sebelum membuka pasar domestik bagi pesaing asing. Inggris pada abad ke-18 di bawah PM pertama Robert Walpole melarang impor barang dari koloninya yang berpotensi mengancam industri dalam negeri. Presiden AS ke-16, Abraham Lincoln, dikenal sebagai the Great Protector, terutama terhadap industri manufaktur AS. Ringkasnya, kebijakan membuka diri langsung terhadap perdagangan bebas, tanpa persiapan, hanya akan menyengsarakan penduduk. Perlu waktu bagi industri domestik untuk mampu bersaing di pasar global.
Chang (2008) menyebut negara-negara-negara maju hanya mau untung sendiri, bertindak bak Bad Samaritans. Bahkan, Stiglitz (2007) menuding mereka munafik. Ketika Asia menghadapi krisis, pemerintah dianjurkan menerapkan kebijakan moneter ketat dan menjaga agar tidak terjadi defisit anggaran. Kini, saat AS dilanda krisis yang bermula dari subprime mortgage, kebijakan yang diambil bertolak belakang, suku bunga diturunkan dan defisit fiskal diterapkan untuk mendorong perekonomian.
Dalam kata Chang ”Keynesian hanya untuk negara kaya, Monetarist bagi negara miskin’.
Di tengah arus globalisasi yang kian deras, adakah jalan alternatif? Adakah jawaban lugas pernyataan Margareth Thatcher yang mengumandangkan paham neoliberalisme dengan semangat TINA (There Is No Alternative)? Chang tidak menawarkan usul spesifik, selain menekankan pentingnya mengadopsi kebijakan yang disesuaikan kepentingan negara itu dan mengombinasikan berbagai resep sukses pembangunan. Hemat penulis, tidak ada jalan yang sama untuk sukses, kita perlu meretas jalan sendiri.
Kompleksitas
Mengapa demikian? Setidaknya ada dua faktor. Pertama, kompleksitas sistem. Sebagaimana sel, organisme, atau sistem ekologi, sistem perekonomian adalah sistem yang kompleks. Kesamaan perekonomian dengan organisme adalah adanya kapasitas dalam pengaturan diri (self-regulation). Kapasitas ini tidak tak terbatas. Jika ada guncangan, mekanisme pengaturan diri bisa hancur. Untuk itu, perlu dimengerti karakteristik internal yang menjadi sumber kekuatan dan ketahanan diri dalam menghadapi guncangan eksternal.
Pasar, sebagai mekanisme pengaturan diri dalam perekonomian tidak dapat dibiarkan bekerja sendiri. Tangan-tangan tidak kelihatannya Adam Smith tidak selalu bekerja mengoreksi ketidakseimbangan pasar. Bahkan, bisa memperparah keadaan karena sifat pelaku ekonomi yang cenderung pro-cyclicality, yakni datang saat sedang tumbuh, kabur saat sulit. Alhasil, diperlukan kebijakan intervensi (counter-cyclical) guna mengoreksi ketidakseimbangan. Tujuannya, bukan sekadar memperbaiki agar mekanisme pengaturan diri berjalan, tetapi untuk melindungi mereka yang terpinggirkan.
Tak terpetakan
Kedua adalah tingginya ketidakpastian, terutama terkait kian terintegrasinya pasar uang, pasar utang, pasar saham dengan pasar komoditas. Berbagai kejadian unprecedented akan terus terjadi. Lihat saja harga minyak dunia, beras, gandum, emas plus volatilitas mata uang dunia yang terus menciptakan rekor baru. Karena itu, upaya meniru kesuksesan negara lain, tanpa penyesuaian, dapat berakibat fatal karena kita kini memasuki era yang tak terpetakan sebelumnya, the unchartered teritory.
Kompleksitas sistem dibarengi tingginya ketidakpastian mensyaratkan penanganan dengan koordinasi yang efektif dan efisien. Ingat, pembangunan ekonomi tidak kongruen dengan pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan ekonomi adalah proses evolusi menuju sistem yang kian kompleks, di dalamnya terkandung kegiatan yang kian teratur dan terkoordinasi. Agar sistem yang kian kompleks tetap langgeng, disyaratkan stabilitas sistem politik dan ekonomi (Leijonhufvud, 2000). Kejatuhan ekonomi saat krisis 1997 adalah cermin kelemahan internal dalam menghadapi guncangan eksternal. Ini juga dapat dilihat sebagai kegagapan kita menghadapi sistem yang lebih kompleks.
Bagi pengambil kebijakan, kedua faktor itu menyebabkan timbulnya berbagai dilema. Pilihan sulit akan selalu dihadapi sehingga judgment pengambil kebijakan menjadi amat esensial. Kisah sukses pembangunan Jepang, China, dan India serta berbagai studi empiris lain wajib dipelajari. Namun, semua itu baru syarat perlu. Syarat cukupnya adalah keberanian karena kita harus meretas jalan sendiri.
Yoga Affandi Lulusan Universitas Cambridge, Bekerja di BI; Pendapat Pribadi
Tuesday, 29 April 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment