
Pemilu Paraguay mengukir catatan historis. Fernando Lugo, pastor dari ordo Societas Verbi Divini (Serikat Sabda Allah) dan ”uskup orang miskin”, terpilih sebagai presiden.
Bagaimana menafsir realitas politik di negara yang disebut Corazón de América (Jantung Amerika) itu? Apakah harapan rakyat kepadanya bisa terwujud?
”Teologi hidup”
Terpilihnya Fernando Lugo sebagai Presiden Paraguay merupakan kado spesial ulang tahun ke-57 (30 Mei) dan ulang tahun ke-14 sebagai uskup (11 April). Lugo, yang keluarganya mengalami penindasan diktator Alfredo Strossner (1954-1989), melewati masa kecil yang sulit. Namun, pendidikan guru SD dan formasi di seminari membuatnya lebih tegar.
Saat bertugas sebagai pastor di Ekuador, ia amat terkesan dengan Uskup Leonidas Proaño yang berpihak kepada kaum miskin. Karena itu, setelah empat tahun bekerja sebagai misionaris di negara Andes, ia mengambil spesialisasi dalam bidang Doktrin Sosial Gereja di Roma (1983-1987). Teologi baginya bukan sekadar doktrin spekulatif tentang Allah, tetapi ekspresi pergumulan sosial umat Allah.
Ide itu begitu dominan saat Lugo menjadi anggota komisi teologi para uskup Amerika Latin (CELAM). Peran kaum religius yang sekadar ”berkhotbah” dibalikkannya. Mereka harus berjuang dengan petani garapan dan imigran. Sebagai uskup di San Pedro Ycuamandiyú, salah satu daerah termiskin di Paraguay, Lugo bergerak dari akar rumput, membentuk komunitas basis.
Namun, setelah proses konsientisasi dan pengajuan program alternatif dilewati, pembaruan yang diharapkan tidak kunjung datang. Hegemoni kekuasaan mementalkan semua rencana. Bagi banyak politisi, negara hanya lechera (sapi perah) yang dijarah, tetapi sedikit yang prihatin.
Dilema
Eforia kemenangan membawa dilema. Reformasi agraria yang dirancang Lugo tidak akan mudah dilewati. Para tuan tanah yang hanya 2 persen dari total enam juta warga Paraguay bakal sulit berkompromi. Perlawanan dan rekayasa kekerasan justru bisa terjadi. Paraguay yang kini menduduki urutan ketiga dalam hal kriminalitas di Amerika Latin (setelah El Salvador dan Kolombia) dapat menjadi ajang pertumpahan darah.
Perlawanan juga datang dari tetangga, seperti Argentina dan Brasil, dalam renegosiasi terhadap PLTA Itaipú dan Yacyretá. Keduanya (bersama Uruguay) sejak perang Triple Alianza (1865-1870) telah merenggut kedaulatan Paraguay. Negosiasi bakal berhadapan dengan tradisi, menjadikan Paraguay sekadar obyek, bukan mitra.
Dilema juga dihadapi Gereja. Lugo yang mengajukan pengunduran diri dari jabatan pastor dan uskup pada Desember 2006 karena bertentangan dengan Kitab Hukum Kanonik No 285 dan 287 belum dipecat, tetapi hanya diberikan sanksi a divinis untuk tidak melaksanakan tugas sebagai pastor. Alasannya, demikian Kardinal Giovanni Battista Ré, adalah ”pilihan bebas dan untuk selamanya”. Gereja diuji apakah masih ”netral” dalam politik ataukah mengubah kebijakan yang berlaku selama ini.
Kedaulatan hidup
Terlepas dari dilema, fenomena Paraguay membawa pembelajaran menarik.
Pertama, model baru pemahaman tentang agama. Tendensi reduktif yang mengecilkan agama hanya sebagai ritus dan doktrin pun diubah. Upaya meletakkan kedaulatan hidup (soberania de vida) di atas kedaulatan ajaran (soberania doctrinal) adalah contoh komitmen Lugo. Ortopraksis masih lebih mengena daripada sekadar ortodoksis. Masukan ini, misalnya, bisa menjadi sumbangan berarti dalam memosisikan diri kita berhadapan dengan berbagai ajaran (doktrin).
Kedua, kehadiran Lugo membuat takut penguasa karena beraliran ”kiri-tengah”. Bahkan, julukan gerilyawan dan ”berdekatan” dengan Hugo Chavez dan Evo Morales bisa saja benar. Secara ideologis, sosialisme abad ke-21 menyatukan mereka. Namun, sejarah hidup berbeda. Karena itu, sejauh tidak mengkhianati prinsip, mustahil kategori ”ekstremis” apalagi komunis terbukti.
Yang pasti, ketidakadilan sosial merupakan hal yang amat melukai hatinya. Kendala birokratis akan diatasi. Sementara itu, negosiasi politik dan konsolidasi yang hanya melelahkan tidak bakal diambil. Yang ada hanya keberanian (bukan keragu-raguan) bertindak atas nama rakyat.
Ketiga, adanya kematangan berpolitik. Pengakuan kemenangan dan ucapan selamat dari lawan yang kalah mengungkapkan kedewasaan berpolitik. Kita bukan saja enggan menyalami, bahkan berharap akan mukjizat penghitungan ulang. Penolakan dan klaim menang dan tidak kalah adalah ekspresi keengganan berubah dan amat dekat dengan infantilisme berpolitik.
Untuk itu, di sela-sela pembelajaran, kita patut menyalami: Fernando, Enhorabuena. Semoga suhu eforia politik cepat menggumpal dalam inti pengembunan atau kondensasi hingga menghadirkan hujan guna membasahi kegersangan Paraguay.
Robert Bala Diploma Resolusi Konflik dan Perdamaian di Asia Pasifik, Universidad Complutense de Madrid, Spanyol; Pernah Tinggal di Paraguay (1997-2001)
Bagaimana menafsir realitas politik di negara yang disebut Corazón de América (Jantung Amerika) itu? Apakah harapan rakyat kepadanya bisa terwujud?
”Teologi hidup”
Terpilihnya Fernando Lugo sebagai Presiden Paraguay merupakan kado spesial ulang tahun ke-57 (30 Mei) dan ulang tahun ke-14 sebagai uskup (11 April). Lugo, yang keluarganya mengalami penindasan diktator Alfredo Strossner (1954-1989), melewati masa kecil yang sulit. Namun, pendidikan guru SD dan formasi di seminari membuatnya lebih tegar.
Saat bertugas sebagai pastor di Ekuador, ia amat terkesan dengan Uskup Leonidas Proaño yang berpihak kepada kaum miskin. Karena itu, setelah empat tahun bekerja sebagai misionaris di negara Andes, ia mengambil spesialisasi dalam bidang Doktrin Sosial Gereja di Roma (1983-1987). Teologi baginya bukan sekadar doktrin spekulatif tentang Allah, tetapi ekspresi pergumulan sosial umat Allah.
Ide itu begitu dominan saat Lugo menjadi anggota komisi teologi para uskup Amerika Latin (CELAM). Peran kaum religius yang sekadar ”berkhotbah” dibalikkannya. Mereka harus berjuang dengan petani garapan dan imigran. Sebagai uskup di San Pedro Ycuamandiyú, salah satu daerah termiskin di Paraguay, Lugo bergerak dari akar rumput, membentuk komunitas basis.
Namun, setelah proses konsientisasi dan pengajuan program alternatif dilewati, pembaruan yang diharapkan tidak kunjung datang. Hegemoni kekuasaan mementalkan semua rencana. Bagi banyak politisi, negara hanya lechera (sapi perah) yang dijarah, tetapi sedikit yang prihatin.
Dilema
Eforia kemenangan membawa dilema. Reformasi agraria yang dirancang Lugo tidak akan mudah dilewati. Para tuan tanah yang hanya 2 persen dari total enam juta warga Paraguay bakal sulit berkompromi. Perlawanan dan rekayasa kekerasan justru bisa terjadi. Paraguay yang kini menduduki urutan ketiga dalam hal kriminalitas di Amerika Latin (setelah El Salvador dan Kolombia) dapat menjadi ajang pertumpahan darah.
Perlawanan juga datang dari tetangga, seperti Argentina dan Brasil, dalam renegosiasi terhadap PLTA Itaipú dan Yacyretá. Keduanya (bersama Uruguay) sejak perang Triple Alianza (1865-1870) telah merenggut kedaulatan Paraguay. Negosiasi bakal berhadapan dengan tradisi, menjadikan Paraguay sekadar obyek, bukan mitra.
Dilema juga dihadapi Gereja. Lugo yang mengajukan pengunduran diri dari jabatan pastor dan uskup pada Desember 2006 karena bertentangan dengan Kitab Hukum Kanonik No 285 dan 287 belum dipecat, tetapi hanya diberikan sanksi a divinis untuk tidak melaksanakan tugas sebagai pastor. Alasannya, demikian Kardinal Giovanni Battista Ré, adalah ”pilihan bebas dan untuk selamanya”. Gereja diuji apakah masih ”netral” dalam politik ataukah mengubah kebijakan yang berlaku selama ini.
Kedaulatan hidup
Terlepas dari dilema, fenomena Paraguay membawa pembelajaran menarik.
Pertama, model baru pemahaman tentang agama. Tendensi reduktif yang mengecilkan agama hanya sebagai ritus dan doktrin pun diubah. Upaya meletakkan kedaulatan hidup (soberania de vida) di atas kedaulatan ajaran (soberania doctrinal) adalah contoh komitmen Lugo. Ortopraksis masih lebih mengena daripada sekadar ortodoksis. Masukan ini, misalnya, bisa menjadi sumbangan berarti dalam memosisikan diri kita berhadapan dengan berbagai ajaran (doktrin).
Kedua, kehadiran Lugo membuat takut penguasa karena beraliran ”kiri-tengah”. Bahkan, julukan gerilyawan dan ”berdekatan” dengan Hugo Chavez dan Evo Morales bisa saja benar. Secara ideologis, sosialisme abad ke-21 menyatukan mereka. Namun, sejarah hidup berbeda. Karena itu, sejauh tidak mengkhianati prinsip, mustahil kategori ”ekstremis” apalagi komunis terbukti.
Yang pasti, ketidakadilan sosial merupakan hal yang amat melukai hatinya. Kendala birokratis akan diatasi. Sementara itu, negosiasi politik dan konsolidasi yang hanya melelahkan tidak bakal diambil. Yang ada hanya keberanian (bukan keragu-raguan) bertindak atas nama rakyat.
Ketiga, adanya kematangan berpolitik. Pengakuan kemenangan dan ucapan selamat dari lawan yang kalah mengungkapkan kedewasaan berpolitik. Kita bukan saja enggan menyalami, bahkan berharap akan mukjizat penghitungan ulang. Penolakan dan klaim menang dan tidak kalah adalah ekspresi keengganan berubah dan amat dekat dengan infantilisme berpolitik.
Untuk itu, di sela-sela pembelajaran, kita patut menyalami: Fernando, Enhorabuena. Semoga suhu eforia politik cepat menggumpal dalam inti pengembunan atau kondensasi hingga menghadirkan hujan guna membasahi kegersangan Paraguay.
Robert Bala Diploma Resolusi Konflik dan Perdamaian di Asia Pasifik, Universidad Complutense de Madrid, Spanyol; Pernah Tinggal di Paraguay (1997-2001)
Diambil dari Kompas, 24 April 2008
No comments:
Post a Comment